gurugayahidupnet - Blog
June
2
2015

Karya Misteri yang Cocok untuk Anak

Belakangan ini, anak-anak dalam rumah - Selda dan Sellyn sering kekhawatiran sendiri dengan bayangan-bayangan buruk di pikiran mereka. Mereka tidak berani ke lajur mandi sendiri, tak berani pergi ke pungkur tanpa ditemani / pada suatu suasana mereka ada di kamar sendiri, seketika menjerit sambil pergi terbirit-birit mencari fren. Usut punya usut, mereka bilang tegak karena ada peri seperti diceritakan di sebuah cerpen teka-teki di sebuah corak terbaru majalah bujang ternama di negeri.

Setelah saya membaca kisah seperti dengan mereka tunjukkan, aku jelaskan bahwa “itu hanya cerita rekaan atau fantasi pengarangnya. Maka semua secara ditulis itu gak terjadi dalam umur yang sebenarnya.

Anak-anak serempak bilang, “Memang, ternyata yang sepanjang ini mengetuk villa di tempat titisan yang sedang berwisata itu bukan gedembai, tapi tetangga villa yang tidak mau ada villa baru dalam bangun di menempel lahannya. Tapi kenapa kalimat terakhir dalam tulisan itu disebut kalau Tukang Kebon hanya mengetuk pintu. Nah, yang bertutur ‘Jangan ganggu kami’ itu siapa? Berguna memang hantunya terdapat beneran, khan? ”

Agatha_Christie_Sang_Ratu_Cerita_Misteri

Saya berusaha menjelaskan bahwa semuanya buatan. Mereka terus keluhan, “Tapi kalimat terakhirnya bilang, yang “bohongan” itu kisah gelaran Tukang kebon. Tetapi hantunya ada beneran, ya yang bilang ‘Jangan ganggu aku’ itu. ”

Itulah sekilas contoh kasus tentang perlunya panduan terhadap materi khotbah anak yang tidak merugikan proses pemikiran dan perkembangan anak. Anak-anak yang sama tadi sebelumnya sudah membaca organ “Midnight Stories”, dengan diklaim sebagai ura-ura kisah nyata pengalaman horor.

Mereka anak-anak kutu buku Misteri. Tersebut sudah beberapa kali membaca buku-buku petualangan remaja, meskipun umur mereka masih dalam kategori anak-anak. Meronce sendiri suka menyalut, sebagai kegiatan kesayangan di waktu rileks kalem. Maka saat saya tunjukkan buku perundingan kisah misteri “Midnight Sories”, mereka mengira membaca sedikit, tetapi kemudian tidak sanggup berhenti membaca. Padahal menjadi takut, tersebut terus ingin meradukan buku itu. Itu berkomentar, ada karya yang sangat bikin takut dan “menjijikkan”, ada yang sedang-sedang saja tingkat kengeriannya, dan ada satu cerita yang tadinya menakutkan, tapi sudahnya bikin “adem”.

“Jadi hantu-hantu itu benar-benar sungguh mengerikan, sungguh? Itu benar terselip khan? Sergah anak-anak.

Agar menghindari imbalan paranoid ataupun fobia, saya katakan jika semua kisah pada buku itu seharga karangan. Mereka beta yakinkan bahwa ceritanya tidak benar-benar tercipta dalam hidup sehari-hari.

“Nah, tapi pada judulnya kan dicantumkan keterangan Based on True Stories, ” bantah mereka.

“Itu agar bukunya terasa lebih seru serta membuat orang penasaran dan ingin membacanya, ” jawab aku mencoba diplomatis.

Perkenan salah satu tulisan yang mereka maksudkan ini saya baca juga. Anak-anak tidak waham membacanya karena, khususnya untuk tulisan secara “seru tapi sudahnya menenteramkan” itu. Anak-anak menunjukkan bagian penutupan kisahnya, yang pikir mereka jadi tak takut lagi mencerap buku misteri itu, bunyinya: “Namun percayalah, Tuhan Maha Menyimpan bagi siapa yang mengandalkan kehidupan berikut hanya kepada KuasaNya. ”

Anak-anak tetaplah anak-anak. Otak meronce mempunyai cara tertentu dalam menganalisis zat yang mereka jumpai, yang mungkin tak pernah terlintas dalam pikiran orang tua. Mereka sering mengejutkan aku dengan pertanyaan tentang sesuatu hal spesial yang bahkan robek dari perhatian aku, sebagai orang tua maupun orang dewasa.

Share on Facebook Back to the blog



Comments:


 
Panel title
Antal besøg: 289555

Lav en gratis hjemmeside på Freewebsite-service.com

Editing

-0.1035361289978sekunder